ima{jin}arium


Tak pernah kubayangkan kalau hari ini kita akan sampai di penghujung jalan ini. Sebab gerimis belum juga mengering setelah sehari sebelumnya kau menyematkan kecupan dibibirku tepat ketika langit membilas kita dengan air kehidupan. Kemarin bibirmu begitu liar dan cerewet, kau merekam setiap kisah yang kita rengkuh bersama. Lalu kita samasama tertawa, berteriak, tersenyum, bersitatap, dan sesekali kau mencubitku dengan bibirmu.

Pesan singkat yang kau kirim saat pagi masih rebah menunggu cericit pipit menjerit menjemput hari, kian membuyarkan sisasisa mimpi semalam. Tak banyak yang kau tulis, hanya sebaris di layar telepon genggam bertuliskan “maaf! Qt bubar skg..”. Dinding kamar tibatiba rubuh, bohlam jatuh tepat di dahi, ornamen beterbangan kesana kemari ikut menimpaku. Aku hanya diam pasrah menerima segala hantaman rasa yang kian membesar dan menjelma sesosok makhluk hitam yang menutupi kelopak mataku. Gelap!

Rekaman demi rekaman kisah itu hadir memenuhi ruang gelap. Disana ada rangkaian perjumpaan, masamasa ceria, pertengkaran, sukaduka, sampai potongan peristiwa kemarin terekam pula. Hingga akhirnya aku terbangun dan yang ada hanya aku dan kamar yang kosong, yang tersisa hanya kenangan. Ya, kau benar bahwa hidup itu mendaki anak tangga, kita hanya akan sampai pada masa depan ketika kita berhasil menyelesaikan setiap babak kehidupan. Dan mungkin ini adalah salah satu babak yang mesti kita akhiri.

Telepon genggam bergetar, pesan masuk “Goodbye, I’ll miss you..”[]
Read More …




Kau tak senang disebut purnama. Meski berkalikali kubilang purnama itu anggun, dia bak putri impian sang pangeran dalam pesta istana. Dia akan menyihir ribuan pasang mata yang menatapnya bahkan tanpa sebait kata. Tapi tetap saja segumpal rindu yang kubungkus dengan baitbait sajak purnama tak kau hiraukan. Purnama seperti layaknya bulan, dia tak sesempurna apa yang terlihat. Permukaaannya dipenuhi kawah dan lubanglubang menyelimutinya. Ya, kau benar purnama menipu kita dengan cahyanya. Dia tampak anggun karena polesan cahaya menawan yang merekah memecah gulita layaknya kosmetik yang menjadi bahan dempul wajah para gadis munafik.

Sebut aku kunangkunang. Setengah berbisik suara itu mengendap ke telingaku, lembut. Setidaknya kunangkunang mencipta cahayanya sendiri tidak seperti purnama yang menanti mentari memancarkan sinar padanya. Kunangkunang lebih melambangkan kehidupan. Kelap kelip cahayanya adalah sinyal interaksi dan komunikasi yang dibangun untuk mengirimkan pesan ke lawan jenis. Mulamula kunangkunang jantan berkelap kelip kemudian betina menerima pesan itu. Kelipan betina memberi sinyal positif bagi si jantan dan terjadilah perkawinan. Setelah kawin kunangkunang betina akan bertelur dan menetas menjadi larva setelah itu larva akan berubah menjadi pupa, kemudian berubah menjadi kunangkunang dewasa. Sebuah eksistensi kehidupan.

Kau memang pandai bicara, aku hanya diam manut mendengarkan. Setiap hal yang kuungkap selalu kau temukan rasionalisasinya. Tapi, setelah kawin kunangkunang betina akan kembali berkelap kelip untuk menarik perhatian jantan lain, ketika si jantan mendekat kunangkunang betina lalu memakannya. Apakah kau kunangkunang? Tak kutemukan jawaban, hanya diam.

Hadirku dalam kehidupanmu karena kelipanmu yang memikat. Segala proses yang kita jalani selama ini adalah prosesi kunangkunang. Setelah kau menikmati indahnya kebersamaan dengannya kau memikatku dengan kelipan dan aku datang, tapi kau memakanku. Mencampakkanku.

Kau serupa kunangkunang.[]
Read More …


Ada banyak kesamaan antara air dan cinta. Menurut wikipedia.org, air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk kehidupan. Cinta juga mempunyai arti yang besar dalam kehidupan. Hal itu berarti bahwa air dan cinta sama-sama memiliki arti penting bagi kehidupan. Air dengan segala sifat dan bentuknya memberi ketenangan dan kesejahteraan tersendiri bagi manusia layaknya cinta yang mampu memberi energi yang luar biasa.

Saya masih ingat seorang professor dari Hado Institute di Tokyo, Masaru Emoto, pada tahun 2003 melalui penelitiannya mengungkapkan suatu keanehan pada sifat air. Melalui pengamatannya terhadap lebih dari dua ribu contoh foto kristal air yang dikumpulkannya dari berbagai penjuru dunia, Emoto menemukan bahwa partikel molekul air ternyata bisa berubah-ubah tergantung perasaan manusia disekelilingnya, yang secara tidak langsung mengisyaratkan pengaruh perasaan terhadap klasterisasi molekul air yang terbentuk oleh adanya ikatan hidrogen.

Emoto juga menemukan bahwa partikel kristal air terlihat menjadi "indah" dan "mengagumkan" apabila mendapat reaksi positif disekitarnya, misalnya dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Namun partikel kristal air terlihat menjadi "buruk" dan "tidak sedap dipandang mata" apabila mendapat efek negatif disekitarnya, seperti kesedihan dan bencana.

Serupa dengan air, cinta yang terpancar akan sangat dipengaruhi oleh seberapa besar rasa dan kasih sayang yang tercurah. Jika perasaan kita sedang sedih maka bentuk dan sikap cinta kita pun menjadi sangat terpengaruh. Demikian pula sebaliknya perasaan senang akan membawa pada pancaran kasih sayang yang luar biasa.

Air akan mengalirkan kehidupan seperti cinta. Cinta memberi kehidupan seperti air.[]
Read More …


Aku menyimpan tiga dari empat nomor seluler yang pernah kau sebut. Ketiganya telah kutelpon. Juga mengirim pesan. Berkali-kali.

Dua kali suara diseberang menjawab kau tak ada. Ternyata lelaki yang mengaku kakakmu. Jawabnya tak memberi petunjuk keberadaanmu. Pesan tak satupun yang terbalas. Kau dimana?

Aku selalu menduga kalau kau sedang tidur. Tak mau diganggu. Atau di tempat kerja. Mungkin.

Tapi sebanyak hari yang kuhitung sangat pelan itu, kenapa kau tak hirau. Apa kau terserang amnesia?

Baiklah. Aku akan menulis cerita ini dan kelak bisa membantu ingatanmu. Tentang pertemuan kita yang begitu singkat.

***

Sehari sebelum lebaran tahun ini, aku mengunjungi mall menemani seorang teman untuk belanja pakaian. Setelah membeli selembar celana kami beranjak pulang. Tepat didepan pintu utama mall kami terhenti oleh panggilan seorang gadis dan menawari jam tangan. Sebuah jam tangan berwarna hitam dicelupkan ke sebuah gelas plastik berisi air. “Ini anti air” katanya. Aku meraih jam tangan itu, memeriksa dan memasang di pergelangan. Lalu satu jam tangan dengan model yang sama dicelupkan lagi. Kami memerhatikan atraksi itu sambil memberi penawaran harga. Kita sepakat.

Suara adzan magrib terdengar dari radio di ponsel, waktunya buka puasa. Temanku pamit untuk membeli es kelapa muda. Aku menunggu sambil mencoba jam tangan model lainnya. Gadis itu sangat lincah menjelaskan perihal jam tangan itu. Satu persatu kucocokkan dan kembali ke jam tangan tangan awal yang telah disepakati. Model yang sama dibeli temanku tadi.
Aku membayar jam tangan itu. Sembari mengeringkan dengan ujung baju, gadis itu masih sibuk melakukan promosi. Kami mengobrol sedikit dan bertukar nomor ponsel. Lalu aku menemui teman yang menunggu di depan mall dan kami pulang.

***

Sejak saat itu kami mulai saling berkirim sms. Bertanya kabar dan aktivitas masing-masing. Juga sesekali mengobrol ditelepon.

Tepat di hari kesepuluh sejak pertemuan itu, kami janjian malam minggu bersama. Aku menjemputnya di tempat kerja yang berada di salah satu pusat pertokoan ternama kota ini. Aku menunggu sebentar sambil ia menutup jualannya. Sekitar pukul delapan lewat kami meninggalkan toko sambil mengobrol. Menyusun rencana kemana akan melewatkan malam minggu bersama. Kami tak bersepakat akan kemana karena masing-masing merasa bingung tempat yang asyik untuk bersantai menikmati malam. Di malam minggu, jalan begitu ramai dan semua tempat disesaki warga kota untuk berkencan atau sekedar bersantai.

Kami memotong jalan menyeberangi lalu lalang kendaraan. Lalu memutuskan untuk mampir ke warung bakso pinggir jalan untuk makan malam. Sambil menunggu pesanan datang, aku membuka pembicaraan. Saling menanyai perihal pribadi masing-masing. Pesanan datang, dua porsi bakso dan dua botol minuman dingin.

Sehabis makan kami beranjak dan kembali menyusuri jalan kota yang ramai. Karena tak punya tujuan yang pasti, akhirnya aku mengajaknya untuk mampir disalah satu ikon kota ini. Sebuah ruang publik yang disulap menjadi mall bawah tanah. Kami tidak masuk ke mall tapi menuju ke tanah lapang diatasnya. Disana ada lapangan bola dan tanah lapang yang aku tidak tahu peruntukannya. Meski malam minggu tapi tempat ini begitu lengang. Tidak seperti dulu sebelum menjadi mall. Semua kalangan berdatangan, mulai dari pejabat, anak nongkrong, gepeng, sampai banci-banci ibu kota.

Kami memilih duduk ditepian undakan tepat dibawah tiang lampu sorot yang berada ditengah lapangan. Kami bercerita satu sama lain tentang banyak hal. Dan seperti kencan pertama pada umumnya, yang menjadi topik dominan adalah cerita tentang pengalaman berpacaran. Curhat.
Cukup lama kami mengobrol. Jam tangan menunjukkan pukul sepuluh lewat. Waktunya pulang.

***

Lima belas hari setelah kencan pertama, kami kembali bertemu. Di sebuah pantai, tempat wisata yang ramai dikunjungi orang setiap harinya.

Kami sampai terlalu sore hingga tak dapat menikmati indahnya matahari tenggelam. Hanya sisa temaram yang kami temui. Disana sini orang berseliweran, ada yang bermain pasir, berenang, bergadengan bersama pasangannya, dan beberapa berkemas hendak pulang.

Malam turun. Langit gelap. Udara dingin menyelimuti.

Hingga malam begini orang-orang masih ramai. Banyak yang menyewa pondok untuk menginap. Kami menyusuri garis pantai menuju kearah selatan yang lebih lengang. Di sepanjang pantai banyak kami temui pasangan yang tengah asyik berduaan. Tak jarang pula ada bercumbu dalam gelap. Kami hanya menoleh sebentar dan berjalan lagi.

Setelah cukup jauh berjalan dan suasana amat sepi, kami berhenti dan duduk di atas pasir. Obrolan pun dimulai. Disela serunya obrolan kami, tiba-tiba diinterupsi oleh dering ponsel. Ada yang menelponnya. Dia berbisik dan memberi tahu kalau mantan pacarnya yang menelpon. Lebih dua puluh menit mereka berbicara di telepon. Obrolan kami lanjutkan.

Dua jam berlalu. Obrolan semakin serius. Sesekali kami berdiri dan memandangi laut lalu duduk lagi. Aku memberanikan diri bertanya apakah dia mau menjadi pacarku. Dia bertanya beberapa hal untuk menyakinkan. Lalu kami membuat komitmen bersama. Sekarang kami berpacaran. Resmi. Tanpa kecupan dan dekapan.

Angin bertiup kencang dan bintang hilang satu persatu. Pertanda hujan menjelang. Kami pulang.

***

Aku tak pernah menduga kalau kencan kedua itu akan menjadi pertemuan terakhir. Setiap hari aku mengiriminya pesan dan menelpon tapi tak ada jawaban. Dia menghilang.

Itulah cerita singkat yang bisa aku tuliskan. Aku berharap kelak kau membacanya dan memulihkan ingatanmu. Ingatan tentang kita. Bahwa kita tak pernah benar-benar bersepakat untuk mengakhiri hubungan dan menghilang tanpa kabar.

Dan jam tangan ini masih tetap kukenakan di pergelangan kiriku. Semoga saja kita berpapasang dijalan dan kau mengenalinya. Jam tangan yang kubeli saat pameran di mall tempat pertama kita berkenalan.

Gadis dalam cerita ini adalah kau.[]
Read More …